Kuliah Umum Program Studi Teknik Otomasi Listrik Indonesia (TOLI) dan Teknik Listrik (TL)

Kuliah umum bertema “Tingkatkan Kemampuan Ketenagalistrikan dalam Menghadapi Pasar Bebas ASEAN” yang digelar di Gedung Q Lantai 3, Politeknik Negeri Jakarta, pada hari Rabu, 14 Desember 2016, menghadirkan  Bapak Puji Muhardi selaku Ketua APEI dan Bapak Pawenary selaku GM dari Bakrie Metal Construction sebagai narasumber. Kuliah umum ini merupakan kegiatan rutin setiap tahun yang diselenggarakan oleh mahasiswa DIV program studi Teknik Otomasi Listrik Industri (TOLI) dan mahasiswa DIII program studi Teknik Listrik (TL). Tujuan kuliah umum ini adalah memberikan wawasan pengetahuan kepada mahasiswa tentang tantangan dan kebutuhan ketenagalistrikan di masa depan. Harapannya mahasiswa dapat mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Sesi pertama, Bapak Puji Muhardi selaku Ketua APEI menjelaskan bahwa berdasarkan data dari kementerian ESDM,  pada akhir tahun 2015 ratio Elektrifikasi Indonesia baru mencapai 84,7 %,  dengan populasi penduduk berjumlah 250 Juta orang.  Hal ini menandakan bahwa sekitar 38,2 juta masyarakat Indonesia belum memiliki penerangan listrik di rumahnya. Saat  ini kapasitas listrik yang  terpasang sebesar 54.488 MW, yang terdiri dari Pembangkit milik PLN sebesar 38.204 MW,  dan sisanya non PLN. Maka dari itu, untuk menyelesaikan masalah yang ada, pemerintah membuat program listrik 35.000 MW. Dimana 10.000 MW digarap oleh PLN dan sisanya oleh pihak swasta. Dengan diadakannya program listrik 35.000 MW dari pemerintah , maka diharapkan adanya perkembangan ratio elektrifitas di Indonesia meningkat menjadi 97%.

Lebih lanjut, dalam pelaksanaanya, program 35.000 MW mendapat beberapa masalah, diantaranya: (1) Waktu pembangunan tidak cukup, hal ini dikarenakan adanya target yang harus selesai pada 2019 nanti; (2) Pasokan Daya, dengan daya sebesar  itu, maka munculah beberapa pertanyaan seperti, siapa yang akan menggunakan daya tersebut, untuk apa daya tersebut dll; (3) Investor swasta menuntut jaminan bahwa listrik yang telah mereka hasilkan nantinya harus dibeli. Beberapa tindakan yang harus dilakukan untuk melaksanakan program 35.000MW adalah (1) Penyederhanaan peraturan; (2) Kemudahan perijinan; (3) Pembangunan pembangkit listrik skala kecil; (4) Kerja sama (link & match) antara dunia pendidikan dan industri.

Sesi kedua, Bapak Pawenary selaku GM dari Bakrie Metal Construction, menjelaskan tentang Sumber Daya Manusia (SDM) yang merupakan salah satu faktor kunci dalam reformasi ekonomi. SDM yang berkualitas dan berdaya saing tinggi dalam persaingan global menjadi hal yang mutlak sangat penting. Dari hal tersebut timbulah satu pertanyaan bagi mereka yang menyandang stastus seorang mahasiswa, pertanyaan tersebut adalah “ Setelah lulus mau jadi apa?” khususnya bagi mereka berada di jurusan teknik elektro. Kini  terdapat lebih puluhan titik potensi sebaran SDM di Indonesia untuk mereka bisa punya kesempatan berkarir di perusahan-perusahaan yang berkelas di Indonesia. Akan tetapi hal itu terasa sangat sulit ketika saat ini persaingan global semakin kuat, itu menandakan SDM di Indonesia harus mampu lebih unggul. Hingga tahun 2015 lulusan khususnya di bidang Teknik Elektro mencapai 279.000 dari berbagai instansi perguran tinngi. Dengan demikian secara individu calon sarjana harus mempersiapkan dirinya agar mampu bersaing dalam dunia kerja nantinya. Hal yang utama adalah merubah pola berfikir karena hal ini terkait dengan kwalitas hidup. Dan tidak hanya itu, pola pikir menjadi poros penentu jika kita diberi kesempatan untuk berada di sebuah perusahaan, bagaimana kita dapat berorganisasi demi jalannya sebuah perusahaan dimana tempat kita berkarir.

Kuliah umum ditutup dengan penyerahan cendramata sebagai ucapan terima kasih atas kesediaan narasumber untuk berbagi pengetahuan dengan mahasiswa PS-TOLI dan TL jurusan Teknik Elektro PNJ.